KETELADANAN NABI IBRAHIM
Khutbah Iedul Adha 1430 H
Oleh: Ahmad Saifuddin, Lc
Disampaikan pada tanggal 27 Nopember 2009
Di Masjid Al-Kautsar Vila 2
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا . لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون. لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. لا إله إلا الله والله أكبر. الله أكبر ولله الحمد
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده.
اللهم صل على محمد وعلى آله وأزواجه أمهات المؤمنين وأصحابه الأخيار رضوان الله عليهم ومن دعا بدعوته وسلك سلوكه واتبع سنته إلى يوم الدين . أما بعد. فيا أيها المسلمون أوصيكم ونفسي بتقوى الله عز وجل.
Hadirin, jamaah shalat iedul adha yang di muliakan Allah….Pada hari ini, seluruh umat muslim, baik yang berada di Masy’aril haram atau pun yang berada di negara-negara seluruh dunia, bersama-sama mengagungkan asma Allah dan melakukan serangkaian ibadah.
Bagi yang sedang melaksanakan haji, saat ini mereka tengah berada di Muzdalifah, untuk kemudian menuju Mina untuk melempar jumrah aqobah.
Bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan haji, saat ini bersama mereka melantunkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih, kemudian mereka lanjutkan dengan bersama-sama melaksanakan shalat ied dan memotong hewan qurban.
Hari ini adalah merupakan puncak dari serangkaian ibadah di bulan dzul hijjah. Dan puncak dari segala ibadah dan aktifitas kita adalah mengagungkan Allah dengan cara memperbanyak bacaan tahlil, takbir, tahmid, tasbih, dan memperbanyak ibadah yang lain.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd
Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt
Serangkaian ibadah dibulan dzul-hijjah dibulan ini pada hakekatnya adalah meneladani sunnah Ibrahim , abul anbiya’. Hal ini karena, Ibrahim adalah seorang nabi yang menjadi teladan bagi seluruh nabi dan manusia diseluruh dunia ini. Nabi Ibrahim adalah qudwah yang memberikan contoh terbaik kepada seluruh manusia, bahwa hidup itu membutuhkan pengorbanan. Dan pengobanan sejati adalah pengabdian seutuhnya hanya kepada Allah sang pencipta segalanya.
Nabi Ibrahim dan keluarganya memberikan keteladanan kepada kita bahwa cintanya kepada dunia, baik cinta kepada anak, istri dan harta, jangan sampai mengalahkan cintanya dan pengabdianya kepada Allah.
Jika kita telusuri kisah Ibrahim dan keluarganya kita akan mendapatkan gambaran yang utuh, yang membuat kagum setiap insan yang beriman. Bagaimana tidak, Ibrahim dan keluarganya rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan cinta Allah swt.
Marilah kita lihat bagaimana Ibrahim ketika meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang pasir yang tandus dan tak berair dan hanya berbekal sedikit makanan. Istrinya bertanya pun kepada Ibrahim , “Wahai Ibrahim , apakah kamu melakukan ini karena perintah Allah atau karena kemauanmu sendiri?” Dengan berat hati Ibrahim mengatakan, “Ini adalah perintah Allah”. Lalu istrinya dengan tegar mengatakan, “Jika demikian, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami”. Sebuah jawaban yang penuh keyakinan dan keikhlasan keluar dari mulut seorang istri yang shalehah, istri yang taat kepada Allah dan suami yang sangat dicintainya.
Ini adalah sebuah gambaran pengorbanan dari sebuah keluarga yang taat kepada perintah Allah dan rasulnya.
Bagi Ibrahim , meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi, ditengah padang pasir yang tandus, adalah sebuah beban yang amat berat. Siapakah suaminya yang rela meninggalkan keluarga yang dicintainya, dalam keadaan yang begitu memprihatinkan. Namun dengan penuh keyakinan, sang istri yang shalehah, menguatkan dan meneguhkan hati sang suami, bahwa pilihannya itu benar. Dengan mengatakan, “Jika demikian, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami”. Dengan berat hati, Ibrahim pun meninggalkan keluarganya.
Sementara bagi sang istri, merawat anak yang masih bayi sendirian adalah bukan hal ringan, ditambah lagi dengan bekal yang amat sedikit yang dibawanya. Sampai ahirnya, ketika bekal mereka habis dan keduanya kehausan, sang ibu meninggalkan anaknya dan mencari air dengan menelusuri bukit Shofa dan Marwa, ketika itulah Allah memberikan pertolongannya kepada keduanya, dengan memancarkan air dibawah kaki Ismail. Ini adalah sebuah peristiwa antara ibu dan anak yang penuh pengorbanan, sehingga hal itu di abadikan sebagai ibadah sya’i.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd
Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt
Pada kisah selanjutnya, ketika Ibrahim menjenguk istri dan anaknya Ismail, Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah melalui mimpi, bahwa dalam mimpinya itu ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Bagi Ibrahim , ini merupakan ujian yang teramat berat, bagaimana mungkin ia harus menyembelih anak yang sangat didamba dan dicintainya, setelah sekian lama ditunggu kelahirannya dan bahkan setelah sekian lama ia tinggalkan dalam penderitaan, kini datang perintah Allah untuk menyembelihnya. Berhari-hari Ibrahim termenung, dan kian hari, mimpi itu selalu datang menghantuinya. Hingga ahirnya ia menemui anaknya dan meminta pendapat anaknya. Sebagai anak yang shaleh, Ismail menguatkan hati bapaknya, dan membenarkan perintah itu sebagaimana yang di abadikan Allah dalam surat Ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim , Ibrahim berkata:"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. 37:102)
Sebuah jawaban yang tulus ikhlas dan memberikan motivasi kepada Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah, meskipun itu terasa berat baginya. Sehingga dengan pengorbanan itu Allah menggantikannya dengan seekor kambing, dan itulah yang di abadikan hingga sekarang sebagai kurban.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd
Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt
Dari kisah nabi Ibrahim tersebut kita bisa mengambil beberapa pelajaran dan hikmah, di antaranya;
1. Melaksanakan perintah Allah lebih diutamakan daripada cinta kepada istri dan anak.
Maka inilah yang selalu diingatkan Allah kepada kita dalam banyak ayat di dalam al-Quran. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat dalam At-Taghabun ayat 14:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka Ujian atau finah ini pernah dialami oleh nabi Allah Nuh as, dan nabi Luth as, istri keduanya adalah termasuk istri yang durhaka, yang menentang perintah Allah dan rasulnya. Demikian halnya dengan anak nabi Nuh as.
Allah juga berfirman dalam surat Al-Anfal 28:
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8:28)Demikian pula dalam surat al-Munafiqun ayat 9:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 63:9)Di dalam ayat ini Allah menegaskan, bahwa jangan sampai kekayaan kita, dan keluarga kita mengalahkan tugas kita kepada Allah, yaitu menunaikan kewajiban yang di amanahkan Allah kepada kita. Demikian juga, jangan sampai kecintaan kita kepada anak, perhatian kita kepada mereka mengalahkan perhatian kepada Allah. Dalam hal ini Ibrahim mampu membuktikan bahwa kecintaannya kepada Allah melebihi kecintaannya kepada anaknya.
2. Ujian seberat apapun harus dihadapi dengan sabar dan ikhlas
Ujian adalah merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Dan siapa pun dia, baik itu orang kafir atau orang beriman ia akan mendapat ujian itu dari Allah.
Di antara ujian itu ada yang berupa kesenangan atau bencana. Maka kapan pun ujian itu datang, kita harus siap menerimanya.
Sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam surat Al-Baqarah 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. 2: 155)Dan setiap umat akan diberikan oleh Allah ujian yang berbeda, sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah saw,
إن لكل أمة فتنة وفتنة أمتي المال
Setiap umat memiliki ujiannya masing-masing, dan fitnah umatku adalah hartaJika ujian yang diberikan kepada nabi Ibrahim adalah seperti tersebut dalam kisahnya, maka ujian terbesar yang diberikan Allah kepada umat Muhammad adalah fitnah harta.
Sebagaimana ujian yang diberikan Allah kepada bani israil adalah fitnah wanita, sebagaimana dalam sabda rasulullah,
" إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها فينظر كيف تعملون، فاتقوا الدنيا واتقوا النساء؛ فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء" ((رواه مسلم)).
"Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau (yakni lezat dan nyaman) dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai pengganti di bumi, maka dari itu Dia akan melihat apa saja yang kalian kerjakan. Oleh kerana itu, takutlah fitnah harta dunia dan takutlah pada tipu daya wanita. Sebab sesungguhnya pertama-tama fitnah yang melanda kaum Bani Israil adalah persoalan wanita." (Riwayat Muslim)
Ini mengingatkan kita bahwa apa pun ujian yang diberikan kepada kita harus kita jalani dengan penuh kesabaran, sebagaimana yang dikatakan Ismail, saat di uji oleh Allah hendak dijadikan kurban oleh ayahnya, maka dengan tulus ia mengatakan,
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. 37:102)
Kisah ini mengingatkan kita bahwa segala bentuk ujian yang diberikan Allah harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
3. Derajat yang tinggi diperoleh melalui ujian dan pengorbanan yang besar
Didalam kisah Ibrahim pula, kita menemukan pelajaran berharga, dimana julukan khalilullah, yang artinya kekasih Allah bukan omong kosong belaka, artinya itu diraihnya melaui pengorbanan yang besar, dengan segenap apa yang ia miliki dan ia cintai.
Ujian dan pengorbanan yang besar menunjukkan, semakin dekatnya kedudukannya disisi Allah. Sebagaimana yang disabdakan rasulullah saw:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya besarnya pahala itu disertai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya. Jika ia ridha dengan ujian itu maka ia akan memperoleh ridha Allah, namun ia benci dengan ujian itu maka ia akan mendapat murka Allah. أَشَدّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءَ ثُمَّ الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل, يبتلى الرجل على حسب دينه, فإن كان له في دينه صلابة زيد له في البلاء.
Sesungguhnya orang paling berat ujiannya adalah para nabi, lalu orang-orang shaleh, lalu orang-orang yang sederajat dengan mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika ia dalam agamanya tegas, maka ditambahlah ujiannya. (HR.Ahmad)Kedua hadits ini menguatkan bahwa, ujian itu merupakan standarisasi bagi kedudukan seseorang disisi Allah, semakin kuat imannya, semakin baik agamanya maka semakin berat pula ujiannya.
4. Yang diterima Allah itu bukan bentuk pengorbanannya, tetapi takwa kita
Ibrahim mendapat pahala dan kedudukan yang tinggi disisi Allah, bukan karena apa yang telah dikorbankan Ibrahim, tetapi karena ketakwaan dan ketaatannya terhadap perintah Allah. Dalam kisah Ibrahim dan Ismail tersebut, Allah hanya menguji seberapa besar ketakwaan Ibrahim. Seberapa besar ia melaksanakan perintah Allah, ketika terbukti Ibrahim taat melaksanakan perintah Allah maka Allah menggantinya dengan seekor kambing. Ini menunjukkan bahwa yang dikehendaki Allah adalah ketakwaan dan ketaatan menjalankan perintah.
Hal ini diperkuat firman Allah yang berkaitan dengan penyembelihan kurban, dalam surat Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 22:37)Dari penjelasan ayat ini dapat kita pahami bahwa yang diinginkan oleh Allah itu adalah ketakwaan dan ketaatan kita dalam menjalankan perintah Allah.
5. Puncak dari segala aktifitas manusia itu adalah dalam rangka mengingat Allah
Inilah yang selalu diingatkan Allah, bahwa apa pun aktifitas kita jangan sampai melalaikan kewajiban kepada Allah, yaitu mengingat Allah melalui ibadah, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Jum’ah 9-10:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. 62:9)Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10)
Di dalam ayat ini ditegaskan bahwa apa pun kegiatan dan aktifitas kita, jika sudah dikumandangkan adzan terutama di hari Jum’at, maka seluruh aktifitas itu harus kita hentikan dalam rangka mendahulukan perintah Allah, namun begitu selesai kita melaksanakan tugas kita, maka kita di anjurkan oleh Allah untuk segera beraktifitas kembali. Dan bahkan dzikir itu bisa dilakukan dalam kondisi sambil beraktifitas.
Hal ini dijelaskan pula dalam surat, An-nisa 103:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. 4:103)Juga sebagimana dalam surat Al-Baqarah 200
6. فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu.Didalam ayat ini juga ditegaskan bahwa setelah kita selesai melaksanakan haji, tidak serta merta kita bersenang-senang karena telah selesai melaksanakan perintah Allah, namun kesenangan itu harus di isi dengan aktifitas dan kegiatan ibadah yang lain, dalam rangka mengingat Allah swt.
Iedul Adha merupakan puncak dari serangkaian ibadah dibulan Dzul-Hijjah, termasuk didalamnya adalah ibadah haji. Dimana puncak dari ibadah haji itu adalah wukuf di arafah, yang kemudian dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifah, lalu dilanjutkan menuju Mina untuk melempar Jumrah disana.
Bagi yang tidak melaksanakan haji maka sangat dianjurkan untuk melaksanakan serangkaian ibadah seperti, puasa di hari Arafah, shalat ied, berkurban, bertakbir, tahmid, tahlil dan tasbih. Bahkan selama hari-hari tasriq kita dianjurkan terus melantukannya. Semua itu adalah dalam rangka mensyukuri nikmat Allah dihari kemenangan ini.
Sesuai firman Allah,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. 2:152)Allahu Akbar 3X Walillahilhamd
Jama’ah sholat ‘id yang dimuliakan Allah swt
Inilah beberapa hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah keteladan nabi Ibrahim dan keluarganya. Semoga kita semua dijadikan Allah sebagai orang-orang yang menjadikan Allah dan rasulnya lebih dicintai daripada kesenangan dunia seisinya.
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه ، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه. اللهم إنا نسالك الهدى والتقى والعفاف والغنى. اللهم ارفع مقتك وغضبك عنا . اللهم لا تدع في مقامنا هذا ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا دينا إلا قضيته ولا حاجة من جوائج الدنيا إلا قضيتها ويسرتها يا رب العالمين. اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين ودمر أعداءك أعداء الدين.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar